Rabu, 25 November 2009

HIKMAH IDUL ADHA

Hikmah Idul Adha

Idul Adha atau yang lebih dikenal dengan istilah Hari Raya Qurban merupakan salah satu hari raya yang begitu akbar dirayakan oleh seluruh umat Islam baik di bumi Nusantara maupun di belahan dunia lainnya. Dikumandangkannya Takbir, Tahlil dan Tahmid sejak 10 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah yang merupakan hari Tasyriq, menandakan, Idul Adha memiliki nuansa dan getaran Tauhidiyah yang sendiri.

Idul Adha atau yang lebih dikenal dengan istilah Hari Raya Qurban merupakan salah satu hari raya yang begitu akbar dirayakan oleh seluruh umat Islam baik di bumi Nusantara maupun di belahan dunia lainnya. Dikumandangkannya Takbir, Tahlil dan Tahmid sejak 10 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah yang merupakan hari Tasyriq, menandakan, Idul Adha memiliki nuansa dan getaran Tauhidiyah yang sendiri.

Perayaan Idul Adha yang ditandai dengan penyembelihan hewan qurban pada hakikatnya membawa pikiran, hati dan keimanan kita larut kepada satu peristiwa besar yang terjadi puluhan abad yang silam. Kisah yang begitu mengharukan dari seorang hamba Allah yang taat yaitu Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail yang begitu sabar dan patuh pada perintah Sang Khalik, Allah SWT, yang untaian kisahnya begitu indah dilukiskan dalam Al Quran surah Ash-Shafat ayat 102-105 yang artinya ‘Maka ketika anak itu sampai pada umur dewasa yakni sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku yang kusayang, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, bagaimana pendapatmu. ‘Dia (Isma’il) menjawab,’Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatkanku termasuk orang yang bersabar. ‘Maka setelah keduanya bertekad bulat dalam berserah diri (kepada Allah) dan dibaringkan pipi (Isma’il) di atas tanah. Kemudian kami berseru kepadanya, ‘Hai Ibrahim, engkau telah benar-benar melaksakan perintahKu dalam mimpi itu. Demikianlah sesungguhnya Kami membalas orang-orang yang berlaku baik. ‘

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan putranya Isma’il AS digambarkan Allah SWT sebagai ujian keimanan yang nyata sebagai mana Firman-Nya dalam surah Ash-Shafat ayat 106 yang artinya, ‘Sesungguhnya ini merupakan uji coba yang nyata.’Dan dalam lanjutan kisah penyembelihan ini Allah SWT Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang menggantikan Nabi Ismail dengan sembelihan dari syurga yakni seekor kibas yang besar yang dahulu dikorbankan oleh Habil, putra Nabi Adam AS sebagaimana Firman Allah dalam surah Ash-Shafat 107 yang artinya,’Kami tebus anaknya itu dengan sembelihan besar (seekor domba/kibas).’

Ketaatan Nabi Ibrahim AS dalam menjunjung tinggi perintah Allah dan keikhlasan serta kesabaran Nabi Ismail mengundang kekaguman para malaikat yang menyerukan kalimat Takbir, ‘Allahu Akbar Allahu Akbar’, yang disambut Nabi Ibrahim dengan kalimat Tahlil, Laailaha Illallahu Allahu Akbar, yang diikuti pula oleh Nabi Ismail dengan ucapan Tahmid, ‘Allahu Akbar WalillahIlhamd ‘yang hingga saat ini, rangkaian kalimat yang mulia ini menghiasi ratusan juta bibir umat Islam saat merayakan Idul Adha. Rangkaian kisah keluarga taat yang Allah Abadikan dalam Al Quran nul karim tentunya mengandung banyak hikmah dan pelayaran yang sangat berharga bagi seluruh ummat manusia. Ibnu Katsir, salah seorang ulama Tafsir terkemuka menyatakan apabila Allah SWT mengabadikan satu kisah dalam Al Quran, maka sesungguhnya kisah ini amat bernilai tinggi dan berisikan pelajaran yang sangat berharga bagi manusia.

Adapun beberapa hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa Idul Qurban antara lain adalah:

Yang pertama, hanya kepada Allah SWT segenap cinta kita curahkan karena Rahmat dan Nikmat-Nya kita terima setiap waktu dan saat yang tiada terhitung banyaknya sekalipun kita gunakan air laut sebagai tintanya dan seluruh rantai pepohonan sebagai penanya; Maka niscaya akan keringlah seluruh lautan dan habislah semua pepohonan sementara nikmat Allah masih banyak yang belum kita tuliskan. Cinta kepada Allah akan berimplikasi pada keikhlasan dan kepatuhan kita dalam menjunjung tinggi perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Yang Kedua, Hanya kepada Allah kita persembahkan segala puji sekali pun pada kenyataannya banyak manusia yang suka dipuji bahkan tidak jarang minta dipuji; karena kepada hakekatnya hanya Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi. Bukankah kita senantiasa melafazkan ayat Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin Yang artinya segala puji hanya milik Allah Tuhan seluruh sekalian alam?

Yang ketiga, hanya kepada Allah SWT kita berserah diri amal ibadah yang kita dirikan siang dan malam, Dzikir yang kita lafadzkan pagi dan petang yang didasari dengan niat ikhlas tanpa mengharapkan pujian dari makhlukNya, pada akhirnya akan kita persembahkan kepada Allah sebagai wujud pengabdian hamba kepada Rab-Nya. Bukankah setiap hari kita berikrar dalam doa Iftitah pada shalat yang kita dirikan bahwa ‘Sesungguhnya shalatku dan semua ibadahku, dan hidupku dan matiku hanyalah buat Allah Tuhan Seluruh sekalian alam.’Karenanya perayaan Idul Adha sudah kita jadikan momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT menjunjung tinggi segala perintahnya, menjauhi semua larangan-Nya, senantiasa berserah diri pada-Nya dan mengharap ampunan serta Ridha-Nya, Wallahu a’lam bisshawab.

Selasa, 24 November 2009

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Sabtu, 21 November 2009

BISNIS KAUM LAKHMI (2)

Mohammad Suyanto

Development of al-Sadir, a castle that in pusisi associated with al-Khawarnaq and is located "in the middle of the desert between Hirah and Syria", is also ascribed to al-Nu'man. Puri al-Sadir and buildings other hirah Lakhmi now in name only. There is no longer recognizable except al-Khawarnaq.

Under boys and successor of al-Nu'man, al-Mundhir I (c. 418-462 AD), Hirah began playing an important role in the events of his time. So much influence al-Mundhir so that he can force the priests to crown Bahram of Persia, who wanted the position as crown prince. In 421, he fought shoulder to shoulder with the Sassanid against the Byzantine empire.

In the first half of the 6th century AD, ruled by Mundhir Hirah others, namely al-Mundhir III (about 505-554), which is called by the Arabs as Ibn Ma'al-Sama '(water sky). His reign was the most famous in the annals of royal Lakhmi. He is a thorn for the Roman Syria. He did a lot of attacks down to Antioch before finally dealing with a more powerful opponent, namely al-Hatits from Gassan kingdom. With regard to al-Mundhir this, al-Aghani strange story about two best friends, which was reported buried alive in a booze party.

Boys and its successor, 'Amr, with the nickname of Ibn Hind (554-569), although most tyrants, was a patron of the poet who was so generous. The best Arab poets, such as ibn al-Tharafah'Abd, al-Harith ibn Hillizah and 'Amr ibn Kulthum (three of the seven famous poets' poems Gold ", Mu'allaqat), gathered at the palace. 'Amr, as well as Lakhmi kings and Jafna, recognizes the role of the poets of his time in forming public opinion. Therefore, he and the other kings, with the aim to spread influence among the nomadic people, providing a large number of prizes to the poets who frequented the court. 'Amr was killed at the hands of Ibn Kulthum, an asylum seeker, who replied that her mother was hurt by the king had been insulted.
Design by Subchan Visit Original Post IT Bisnis